Dari Kulit Biji Asam Menjadi Warna: Kisah Pewarnaan Alami Tenun Sukarara

Deskripsi blog

8/19/20268 min read

Dari Kulit Biji Asam Menjadi Warna: Kisah Pewarnaan Alami Tenun Sukarara

Pencelupan merupakan salah satu tahapan penting dalam pembuatan Tenun Sukarara. Proses ini tidak hanya bertujuan memberikan warna pada benang, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pemilihan bahan pewarna, cara mengolah bahan, lama pencelupan, hingga penggunaan bahan fiksasi menentukan karakter warna yang dihasilkan.

Dalam praktiknya, para penenun memperoleh keterampilan pewarnaan melalui pengalaman dan pembelajaran langsung dari generasi sebelumnya. Karena itu, setiap maestro dapat memiliki cara dan pertimbangan tersendiri dalam menghasilkan warna yang diinginkan.

1. Persiapan Bahan Pewarna

Bahan pewarna alami diperoleh dari berbagai bagian tumbuhan atau bahan lokal yang memiliki kandungan zat warna. Salah satu bahan yang digunakan adalah kulit biji asam. Kulit biji asam terlebih dahulu disangrai hingga cukup kering sehingga kulit lebih mudah dipisahkan dari bijinya. Setelah itu, kulit ditumbuk hingga menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memudahkan proses ekstraksi warna.

Bahan utama:

  • Kulit biji asam

  • Air

  • Benang yang akan dicelup

  • Bahan fiksasi, seperti tawas, kapur sirih, atau tunjung1. Persiapan Bahan Pewarna

    Bahan pewarna alami diperoleh dari berbagai bagian tumbuhan atau bahan lokal yang memiliki kandungan zat warna. Salah satu bahan yang digunakan adalah kulit biji asam. Kulit biji asam terlebih dahulu disangrai hingga cukup kering sehingga kulit lebih mudah dipisahkan dari bijinya. Setelah itu, kulit ditumbuk hingga menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memudahkan proses ekstraksi warna.

    Bahan utama:

    • Kulit biji asam

    • Air

    • Benang yang akan dicelup

    • Bahan fiksasi, seperti tawas, kapur sirih, atau tunjung

Pemisahan kulit dan biji asam yang sudah disangrai

2. Ekstraksi Warna

Bahan pewarna yang telah dipersiapkan kemudian dimasukkan ke dalam wadah dan dicampur dengan air, lalu dipanaskan agar zat warna dapat keluar dan larut dalam air. Larutan hasil ekstraksi kemudian disaring untuk memisahkan ampas dari cairan pewarna. Larutan inilah yang digunakan sebagai bahan utama dalam proses pencelupan benang.

Perebusan kulit biji asam sebagai pewarna dasar dan penyaringan

3. Persiapan Benang

Sebelum dicelupkan ke dalam larutan pewarna, benang dipastikan dalam kondisi bersih dan disiapkan agar larutan pewarna dapat meresap secara merata. Pada tahap ini, keterampilan penenun sangat diperlukan karena kondisi benang akan memengaruhi hasil akhir warna.

Persipaan benang sebelum pencelupan

4. Proses Pencelupan

Benang dimasukkan ke dalam larutan pewarna dan dicelupkan secara perlahan, lalu dibolak-balik agar larutan warna mengenai seluruh bagian secara merata. Pencelupan dapat dilakukan berulang sesuai intensitas warna yang diinginkan — semakin lama dan sering, warna dapat menjadi lebih pekat.

Proses pencelupan ke warna dasar

5. Proses Fiksasi

Setelah pencelupan, warna perlu melalui proses fiksasi agar zat warna menempel kuat pada serat. Bahan fiksasi yang berbeda dapat menghasilkan karakter warna yang berbeda pula — tawas, kapur sirih, dan tunjung menghasilkan warna yang berbeda dari larutan pewarna yang sama.

Fiksasi dengan tunjung menghasilkan warna abu

6. Pembilasan dan Pengeringan

Setelah proses fiksasi selesai, benang dibilas untuk menghilangkan sisa larutan pewarna dan bahan fiksasi yang masih menempel. Benang kemudian dikeringkan.

Pengeringan dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan agar warna yang dihasilkan tetap baik. Setelah benar-benar kering, benang dapat dipersiapkan untuk tahapan berikutnya dalam proses pembuatan kain tenun.

Warna yang Dihasilkan

Salah satu hal menarik dalam pewarnaan alami Tenun Sukarara adalah bahan pewarna yang sama dapat menghasilkan warna yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh bahan fiksasi yang digunakan.

Sebagai contoh, ekstrak kulit biji asam dapat menghasilkan karakter warna yang berbeda ketika difiksasi menggunakan bahan yang berbeda. Pengalaman maestro menjadi penting dalam menentukan kombinasi bahan dan proses yang menghasilkan warna sesuai kebutuhan.

Proses pengeringan dan hasil menjadi 3 warna

Pengetahuan Maestro:
Warna bukan hanya ditentukan oleh bahan pewarna. Jenis bahan fiksasi, proses pencelupan, kondisi benang, lama pencelupan, serta pengalaman penenun turut menentukan karakter warna akhir.

🎥 Saksikan Prosesnya

Dari bahan lokal menjadi warna pada benang.

Pada bagian ini, SDKH dapat menampilkan video dokumentasi proses pencelupan yang dilakukan langsung oleh maestro Tenun Sukarara, mulai dari persiapan kulit biji asam, proses ekstraksi, pencelupan, fiksasi, hingga pengeringan.

Tonton Video: Proses Pewarnaan Alami Tenun Sukarara

“Ketika Tangan Maestro Mulai Menua: Siapa yang Akan Meneruskan Tenun Sukarara?”

Menenun di Sukarara bukan sekadar kegiatan menghasilkan selembar kain. Di balik setiap helai benang terdapat keterampilan, ketelitian, kesabaran, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses menenun dilakukan secara manual menggunakan alat tenun tradisional dan membutuhkan ketekunan sejak persiapan benang hingga kain selesai dikerjakan.

Bagi para penenun, kemampuan menenun tidak diperoleh dalam waktu singkat. Keterampilan tersebut umumnya dipelajari melalui proses melihat, mencoba, mengikuti, dan mengulang. Penenun muda belajar secara langsung dari orang tua, keluarga, atau maestro dengan memperhatikan setiap tahapan dan kemudian mempraktikkannya secara berulang.

Tahapan Proses Menenun

Secara umum, proses pembuatan Tenun Sukarara diawali dengan persiapan benang. Benang disiapkan dan ditata sesuai kebutuhan kain dan motif yang akan dibuat. Apabila menggunakan pewarna alami, proses pewarnaan dilakukan sebelum benang digunakan dalam proses penenunan.

Tahap berikutnya adalah penataan benang pada alat tenun. Benang harus diatur dengan teliti agar posisi dan ketegangannya sesuai. Kesalahan pada tahap ini dapat memengaruhi kerapian motif dan kualitas kain yang dihasilkan.

Selanjutnya, penenun mulai memasukkan benang pakan melalui benang lungsi secara berulang. Gerakan tersebut dilakukan secara terus-menerus mengikuti pola yang telah ditentukan. Pada pembuatan motif yang kompleks, penenun harus memiliki kemampuan membaca pola sekaligus menjaga ketegangan benang agar motif terbentuk dengan baik.

Setelah proses penenunan selesai, kain memasuki tahap penyelesaian (finishing). Kain diperiksa untuk memastikan tidak terdapat bagian yang cacat, benang yang terlepas, atau ketidakteraturan pada motif.

Satu lembar kain dapat membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 7–21 hari, bahkan dapat lebih lama tergantung ukuran, jenis kain, dan tingkat kerumitan motif. Karena dilakukan secara manual, proses tersebut membutuhkan konsentrasi dan ketelitian yang tinggi.

Pengetahuan yang Tidak Tertulis

Salah satu kekayaan terbesar dalam proses menenun adalah adanya pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku atau petunjuk tertulis.

Maestro dapat mengetahui apakah ketegangan benang sudah tepat hanya melalui sentuhan dan pengalaman. Mereka juga mampu mengenali kesalahan pada pola, memperkirakan keseimbangan motif, serta menentukan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi kesalahan dalam proses menenun.

Pengetahuan seperti ini merupakan tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang melekat pada pengalaman seseorang dan sulit dijelaskan hanya melalui kata-kata. Pengetahuan tersebut biasanya diperoleh melalui praktik langsung dalam waktu yang panjang.

Karena itu, dokumentasi melalui wawancara, foto, dan video menjadi penting agar pengalaman para maestro tidak berhenti pada satu generasi.

Tantangan Regenerasi Penenun Muda

Di tengah kekayaan tradisi tersebut, Tenun Sukarara menghadapi tantangan dalam proses regenerasi. Tidak semua generasi muda memiliki ketertarikan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai penenun.

Proses belajar menenun membutuhkan waktu yang panjang, ketekunan, dan latihan berulang. Seorang pemula tidak serta-merta mampu menghasilkan kain dengan motif yang rumit. Mereka harus melalui proses belajar secara bertahap sebelum dapat menghasilkan tenun dengan kualitas yang baik.

Di sisi lain, generasi muda memiliki berbagai pilihan pekerjaan dan aktivitas lain yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Kondisi tersebut menyebabkan semakin sedikit anak muda yang bersedia menjalani proses belajar menenun secara mendalam.

Persoalan regenerasi bukan hanya tentang berkurangnya jumlah penenun, tetapi juga tentang berkurangnya kesempatan untuk mentransfer pengetahuan lokal. Ketika seorang maestro berhenti menenun tanpa sempat mendokumentasikan pengetahuannya, sebagian pengalaman dan teknik yang dimilikinya berpotensi ikut hilang.

Dari Maestro kepada Generasi Muda

Pelestarian Tenun Sukarara membutuhkan lebih dari sekadar mempertahankan kain dan motif. Yang perlu diwariskan adalah pengetahuan di balik proses pembuatannya.

Karena itu, dokumentasi pengetahuan para maestro menjadi bagian penting dalam pengembangan Sukarara Digital Knowledge Hub (SDKH). Melalui platform ini, pengetahuan tentang teknik menenun, motif, filosofi, proses pewarnaan, hingga pengalaman para penenun dapat disimpan dalam bentuk teks, foto, dan video.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya dapat belajar melalui praktik langsung bersama maestro, tetapi juga memiliki sumber pengetahuan digital yang dapat dipelajari kembali kapan saja.

“Yang diwariskan bukan hanya kainnya, tetapi tangan, pengetahuan, cerita, dan nilai budaya yang membuat kain itu memiliki makna.”

🎥 Dokumentasi Video

Judul video:
“Dari Tangan Maestro ke Generasi Muda: Proses Menenun Tenun Sukarara”

Begawe Jelo Nyensek 2026: Merayakan Seni, Merawat Pengetahuan Tenun Sukarara

Begawe Jelo Nyensek

Sukarara, Lombok Tengah — 7 Juli 2026 — Desa Sukarara kembali menghadirkan semangat pelestarian budaya melalui Begawe Jelo Nyensek, sebuah regional cultural event yang mengangkat seni dan tradisi menenun sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Sukarara, Lombok Tengah.

Begawe Jelo Nyensek menjadi ruang perjumpaan masyarakat, para penenun, generasi muda, pelaku seni, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap keberlangsungan budaya lokal. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan hasil karya tenun, tetapi juga memperlihatkan proses, keterampilan, dan pengetahuan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sukarara.

Istilah “nyensek” merujuk pada aktivitas menenun yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sasak. Bagi masyarakat Sukarara, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk menghasilkan kain, tetapi merupakan keterampilan budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi, kreativitas, dan identitas masyarakat.

500 penyensek di hari begawe nyensek

Dalam kegiatan Begawe Jelo Nyensek, pengunjung dapat melihat lebih dekat berbagai aktivitas yang berkaitan dengan tradisi menenun. Mulai dari proses persiapan bahan, pengoperasian alat tenun tradisional, pembuatan motif, hingga berbagai pengetahuan yang menyertai proses menghasilkan selembar kain.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan tradisi menenun kepada generasi muda. Proses regenerasi menjadi salah satu tantangan dalam keberlanjutan Tenun Sukarara karena keterampilan menenun membutuhkan waktu, ketekunan, dan praktik langsung yang panjang. Oleh karena itu, ruang-ruang budaya seperti Begawe Jelo Nyensek memiliki peran penting sebagai tempat generasi muda mengenal kembali tradisi yang diwariskan oleh para penenun terdahulu.

Bagi para maestro, setiap proses menenun memiliki pengetahuan yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui buku atau petunjuk tertulis. Cara mengatur ketegangan benang, membaca pola, menjaga kerapian motif, menentukan warna, hingga mengenali kualitas kain merupakan keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun.

Turis mancanegara tertarik dengan proses nyensek

Pengetahuan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan lokal (local knowledge) yang perlu dijaga keberlangsungannya. Ketika pengetahuan hanya tersimpan dalam ingatan dan pengalaman individu, terdapat risiko bahwa sebagian pengetahuan akan ikut hilang ketika generasi penerus semakin sedikit.

Atas dasar tersebut, dokumentasi kegiatan Begawe Jelo Nyensek menjadi penting sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pelestarian pengetahuan Tenun Sukarara. Dokumentasi tidak hanya berupa foto dan video kegiatan, tetapi juga mencatat cerita, pengalaman, teknik, motif, filosofi, dan praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Upaya tersebut sejalan dengan pengembangan Sukarara Digital Knowledge Hub (SDKH) oleh tim Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Mataram. SDKH dirancang sebagai pusat dokumentasi digital yang menghubungkan pengetahuan para penenun dengan masyarakat luas melalui teknologi informasi.

Melalui dokumentasi digital, kegiatan budaya seperti Begawe Jelo Nyensek tidak berhenti sebagai sebuah peristiwa yang berlangsung pada satu waktu. Pengetahuan dan cerita yang terkandung di dalamnya dapat disimpan, dipelajari kembali, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Tim PKM Bersama kelompok tenun Lumbung Sensek

Lebih jauh, digitalisasi pengetahuan juga membuka peluang bagi Tenun Sukarara untuk dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Informasi mengenai motif, filosofi, proses pembuatan, dan cerita para maestro dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya sekaligus memberikan nilai tambah terhadap produk tenun.

Begawe Jelo Nyensek 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang merayakan seni menenun, tetapi tentang merawat ingatan, mempertemukan generasi, dan memastikan pengetahuan yang hidup di balik setiap helai kain tetap memiliki ruang untuk diwariskan.

“Ketika kain terus ditenun, pengetahuan pun harus terus diwariskan.”

Informasi Kegiatan

Nama: Begawe Jelo Nyensek 2026
Tanggal: 7 Juli 2026
Lokasi: Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah
Jenis Kegiatan: Regional Event Budaya dan Seni Sukarara
Fokus: Seni, budaya, tradisi, dan pelestarian Tenun Sukarara